GejalaLesi tampak sebagai pembesaran gusi yang muncul di antara dua gigi, kaya vaskularisasi sehingga mudah berdarah dengan sentuhan dan umumnya berwarna merah keunguan. Ukurannya bervariasi, sebagian besar kasus biasanya berukuran kurang dari 2 cm namun ada kasus yang ukurannya diameter melebihi 4 cm. Lesi ini dapat tumbuh menjadi massa yang bentuknya tidak beraturan yang dapat menjadi ulserasi dan mudah berdarah. Pada beberapa kasus giant cell epulis dapat menginvasi tulang di bawahnya sehingga pada gambaran radiografis akan terlihat erosi tulang.PerawatanPerawatan giant cell epulis melibatkan bedah eksisi dan kuretase tulang yang terlibat. Gigi yang berdekatan dengan epulis juga perlu dicabut bila sudah tidak dapat dipertahankan, atau dilakukan pembersihan karang gigi (scaling) dan penghalusan akar (root planing). Dilaporkan angka rekurensi sebesar 10 % sehingga diperlukan tindakan eksisi kembali.Kamis, 12 Juli 2012
Bagaimana Perawatan Pada Epulis Fissuratum
GejalaLesi tampak sebagai pembesaran gusi yang muncul di antara dua gigi, kaya vaskularisasi sehingga mudah berdarah dengan sentuhan dan umumnya berwarna merah keunguan. Ukurannya bervariasi, sebagian besar kasus biasanya berukuran kurang dari 2 cm namun ada kasus yang ukurannya diameter melebihi 4 cm. Lesi ini dapat tumbuh menjadi massa yang bentuknya tidak beraturan yang dapat menjadi ulserasi dan mudah berdarah. Pada beberapa kasus giant cell epulis dapat menginvasi tulang di bawahnya sehingga pada gambaran radiografis akan terlihat erosi tulang.PerawatanPerawatan giant cell epulis melibatkan bedah eksisi dan kuretase tulang yang terlibat. Gigi yang berdekatan dengan epulis juga perlu dicabut bila sudah tidak dapat dipertahankan, atau dilakukan pembersihan karang gigi (scaling) dan penghalusan akar (root planing). Dilaporkan angka rekurensi sebesar 10 % sehingga diperlukan tindakan eksisi kembali.Perawatan Giant Cell Epulis
GejalaLesi tampak sebagai pembesaran gusi yang muncul di antara dua gigi, kaya vaskularisasi sehingga mudah berdarah dengan sentuhan dan umumnya berwarna merah keunguan. Ukurannya bervariasi, sebagian besar kasus biasanya berukuran kurang dari 2 cm namun ada kasus yang ukurannya diameter melebihi 4 cm. Lesi ini dapat tumbuh menjadi massa yang bentuknya tidak beraturan yang dapat menjadi ulserasi dan mudah berdarah. Pada beberapa kasus giant cell epulis dapat menginvasi tulang di bawahnya sehingga pada gambaran radiografis akan terlihat erosi tulang.PerawatanPerawatan giant cell epulis melibatkan bedah eksisi dan kuretase tulang yang terlibat. Gigi yang berdekatan dengan epulis juga perlu dicabut bila sudah tidak dapat dipertahankan, atau dilakukan pembersihan karang gigi (scaling) dan penghalusan akar (root planing). Dilaporkan angka rekurensi sebesar 10 % sehingga diperlukan tindakan eksisi kembali.Coba Perbaiki Posisi Tidur dan Tata Letak Bantal Kita
Untuk yang tidur menyamping, letakkan bantal di kepala dan di antara kedua lutut. Bila perlu, maka tambahkan gulungan handuk di bawah pinggang. Cara ini akan membantu meredakan ketegangan pada sendi tulang belakang dan mempertahankan kontur normal tulang. Untuk yang tidur telentang, pertahankan kontur normal tulang belakang dan buat lutut kita lebih nyaman dengan cara menaruh bantal di kepala dan di bawah lutut kita. Tambahkan juga gulungan handuk pada punggung bagian bawah jika perlu.Untuk yang tidur telungkup, taruh bantal di bawah panggul kita dan bila perlu tambahkan gulungan handuk di pergelangan kaki atau dekat mata kaki. Metode ini sangat baik untuk meredam rasa sakit bagi orang yang mengalami pembengkakan pada bantalan tulang belakang. Untuk yang tidur berubah-ubah, tingkatkan kesehatan kontur tulang belakang kita seoptimal mungkin dengan cara memperbaiki posisi bantal yang disesuaikan dengan posisi awal tidur setiap kali kita terjaga.Tips: Kita cukup menggunakan satu bantal saja untuk menyangga kepala dan leher. Untuk orang yang memiliki kebiasaan tidur telungkup, hindarilah menyangga kepala dengan bantal. Kondisi ini akan membuat tulang belakang menjadi tegang.Kamis, 22 Maret 2012
Waspadai Amandel Pada Anak
terapimelia.blogspot.com - Penderita tonsilitas atau lebih popular dikenal dengan istilah penyakit amandel umumnya dialami anak-anak usia 5-15 tahun. Kondisi amandel yang menyerang anak bisa berbeda-beda.
Keluhan amandel yang ringan biasanya muncul saat daya tahan anak drop. Namun, dalam kondisi parah, pengangkatan amandel seringkali perlu dilakukan oleh dokter THT. Tapi, mengapa anak-anak rentan mengalami penyakit amandel,dan apa penyebabnya?
Tonsil atau amandel, sebagai benda bulat yang posisinya berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan, merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghadang agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Ukuran amandel juga beragam, mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran bola ping pong.
Amandel pada orang sehat akan berwarna sesuai dengan warna jaringan di sekitarnya dan memiliki permukaan rata. Sedangkan pada mereka yang mengalami tonsillitis (infeksi atau radang amandel) warnanya bisa menjadi kemerahan atau terdapat bercak putih pada amandel, dan ukuran amandel kemudian membesar.
Masalah peradangan dan infeksi amandel ini bisa mengakibatkan sakit tenggorokan kronis atau berulang, bau mulut, gangguan menelan, tersumbatnya jalan pernapasan bagian atas yang ditandai dengan dengkuran hingga terhentinya jalan pernapasan saat tidur, ini yang membahayakan pasien, dan biasanya anak-anak sangat rentan mengalami penyakit amandel, karena daya tahan tubuh mereka yang masih rendah.
Masalah infeksi dan radang amandel disebabkan oleh masuknya mikroorganisme (bakteri dan virus) yang menyerang tenggorokan. Dan berdasarkan waktu berlangsungnya, radang dan infeksi amandel bisa berlangsung lama sesuai kondisinya. Jika kondisi infeksi dan peradangan sudah akut, ketika radang berlangsung kurang dari 3 minggu, dan dalam kondisi kronis jika frekuensi infeksi mencapai 7 kali setiap tahun atau 10 kali dalam 2 tahun ataupun 3 kali dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.
Gejala yang dialami penderita juga beragam, mulai dari tenggorokan yang terasa kering, rasa nyeri saat menelan, demam terkadang diikuti flu,pilek, sakit kepala, bau mulut, mual, dan pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher.
Radang amandel yang tidak segera ditangani akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti infeksi pada telinga, dan sinus, abses atau bisul pada tenggorokan sehingga harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan nanah, hingga gangguan pertumbuhan pada anak.
Agar anak-anak terhindar dari penyakit amandel, orangtua perlu waspada, jangan sampai anak-anak mudah terpapar virus dan bakteri. Sebab, kekebalan tubuhnya masih rendah, anak akan mudah mengalami infeksi. Jika infeksi berulang, maka akan menekan system pertahanan tubuh.
Infeksi saluran napas adalah infeksi paling sering dialami anak dan paling mudah menular pada anak. Jika sering terjadi infeksi, amandel akan membesar bahkan bengkak yang bisa menghambat saluran pernapasan. Agar anak terhindar dari masalah infeksi berulang, caranya jalani pola hidup bersih, hindari anak dari orang-orang atau lingkungan yang banyak dihuni oleh penderita flu, dan selalu cuci tangan.