Tampilkan postingan dengan label Masalah Pada Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masalah Pada Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Perlukah Anak Diberikan Ponsel?

image

terapimelia.blogspot.com - Dulu, ponsel hanya milik orang-orang yang memiliki uang banyak. Namun, sekarang ponsel seolah menjadi komoditas yang sangat menggiurkan. Harga ponsel pun semakin terjangkau tergantung merk daf fitur-fiturnya. Bisa dikatakan bahwa ponsel menjadi barang wajib bagi setiap orang. Tidak memandang kalangan atas saja, penjual keliling pun ada yang memiliki 2 ponsel sekaligus.  Kini Ponsel pun berubah yang semula sebagai alat komunikasi menjadi alat pemuas sehari-hari seiring makin lengkap fitur dari ponsel seperti : kamera, pemutar lagu, pemutar video dan lain sebagainya. Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa lebih baik ketinggalan dompet dari pada ketinggalan ponsel.


Makin rendahnya harga ponsel memberikan peluang yang besar bagi orang tua untuk membelikan ponsel kepada anaknya bahkan pada pendidikan tingkat TK dan SD sekalipun. Sebagian besar dari orang tua tersebut menganggap ponsel adalah satu-satunya cara yang paling baik untuk mempermudah komunikasi dengan mereka juga dapat mempermudah komunikasi si kecil dengan teman-temannya. Namun, segala sesuatu pasti ada sisi positif dan negatifnya.

Berikut hal (positif dan negatif) yang dapat ditimbulkan ponsel pada anak

  • Sebagai media komunikasi
    Ponsel memang penting bagi anak Anda yang memiliki kegiatan “seabrek”seperti kursus dan kegiatan lain. Ponsel akan semakin berguna ketika Anda adalah tipe orang tua yang malas menunggu atau orang tua yang sibuk. Misalnya saat anak Anda pulang, maka Anda tidak perlu bingung jam berapa anak pulang. Ponsel juga berguna untuk mengetahui posisi anak sekarang dimana. Selain itu, ponsel sekarang bagi anak juga berfungsi untuk menanyakan PR, tugas dan lain sebagainya. Mungkin ini salah satu hal positif dari ponsel
  • Mengundang kejahatan
    Tentu pemberian ponsel pada anak dapat membesarkan presentase kriminal pada anak. Saat ini banyak orang yang menghalalkan banyak cara untuk memperoleh kekayaan. Sasaran yang paling empuk tentu saja adalah anak. Maka, sebaiknya perlu pertimbangan yang lebih matang apakah anak sebaiknya diberi ponsel atau tidak.
  • Sebagai alat hiburan
    Game merupakan fitur yang dicari anak-anak pada ponsel. Mungkin anak bisa memanfaatkan fitur ini saat menunggu Anda menjemput atau untuk melepaskan kejenuhan setelah belajar. Sepertinya hal tersebut lebih baik dari pada anak “keluyuran” yang kurang bermanfaat.

Maka beberapa kebijakan yang dapat Anda lakukan diantaranya

  • Berlakukan aturan
    Berikan aturan untuk anak Anda. Hal ini penting agar anak Anda tetap pada kendali Anda. Juga saat anak Anda asyik bermain game. Ingatkan durasi waktu agar anak Anda tidak kecanduan dan melupakan tugasnya sebagai pelajar. Aturan mematikan ponsel diatas jam 8 juga merupakan langkah yang bijak. Hal ini bertujuab agar anak tidak menggunakan ponsel untuk melakukan hal yang tidak penting seperti mengoborol sampai larut malam.
  • Berikan sesuai keperluan
    Sebaiknya jangan memberikan ponsel yang berfitur internet pada anak Anda yang masih TK dan SD. Jika anda tetap ingin memberikan ponsel, sebaiknya berikan ponsel dengan fitur yang minimu seperti hanya telepon, SMS, dan game, dan radio.
  • Tanamkan rasa tanggung jawab
    Ini dapat anda kembangkan dengan memberikan pulsa secara satu bulan. Hal ini dapat memaksa anak anda secara tidak langsung untuk menghemat penggunaan pulsa. Selain itu, tekankan kepada anak Anda untuk lebih menggunaka fitur SMS daripada telepon. Anda juga dapat memberikan syarat bagi anak Anda agar prestasi di sekolah tidak menurun bila masih ingin menggunakan ponsel.

Nah, setelah membaca artikel diatas, kini keputusan sepenuhnya pada diri Anda para orang tua (dan calon Orang tua). Kebijaksanaan Anda sangat diperlukan untuk hal yang kelihatannya sepele ini. Selain itu, Anda juga dapat memikirkan pertimbangan-pertimbangan lain pada konteks ini.

Read More..

Minggu, 04 Maret 2012

Ketika si Kecil Menyanyi Lagu Dewasa

image

Memang sekarang kita sering mendengar anak kecil yang menyanyi lagu dewasa yang bertema cinta. Ternyata itu terjadi bukan tanpa alasan. Mungkin itu karena banyak lagu dewasa yang diputar pada berbagai media seperti TV, radio dan sebagainya. Selain itu yang mempengaruhi adalah kosongnya lagu-lagu anak saat ibi. Seharusnya melalui lagu, anak bisa disisipi edukasi yang lebih bermanfaat.

Namun, kembali ke permasalahan yang utama, bahwa lagu dewasa lebih sering ditayangkan. Secara langsung, intensitas lagu dewasa lebih besar yang mengakibatkan anak lebih bisa menghafal lagu dewasa tersebut.

Parahnya lagi, lagu dewasa 85% itu bertema tentang percintaan. Itu jelas dapat mempengaruhi kondisi anak. “Matang sebelum masanya” mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan anak masa kini. Anak sekarang sudah mengetahui hal yang belum menjadi “hak”nya. Itu dapat mempengaruhi emosi anak yang notabene belum siap.Selain mempengaruhi kondisi psikologis anak, hal ini juga dapat menggeser norma norma yang telah berlaku. Sebagai contoh misalnya anak sering menyanyikan lagu bertema perselingkuhan, maka secara tidak langsung dapat mendoktrin anak untuk melakukan hal tersebut,

Hal ini mungkin dapat diatasi dengan cara sedikit demi sedikit mengajarkan lagu anak yang lawas. Itu dapat sedikit menggerus lagu dewasa yang sedang membombardir tangga lagu saat ini. Mungkin cara efektif untuk mengenalkan lagu anak adalah dengan mengaitkan pada situasi atau kondisi yang sedang dirasakan. Ketika anak sedang melihat cicak yang ada di rumahkita bisa mengenalkan lagu cicak cicak di dinding.

Pandangan saya sendiri tidak patut kita menyalahkan media, karena mereka hanya mengikuti trend. Sebenarnya tidak ada yang patut disalahkan.

Berikut beberapa solusi yang dapat anda tempuh untuk mengatasi hal tersebut :

  1. Kurangi intensitas anak untuk mendengar lagu dewasa dengan mengenalkan anak dengan lagu nasionalisme.
  2. Memberikan tontonan bagi anak yang bersifat edukatif
  3. Sisipkan anak mulai dengan hal hal yang kecil sekalipun, jangan menyepelekan hal yang kecil karena apa? Karena hal kecil tersusun dari hal yang besar









Read More..

Kupas Tuntas Anak Terlambat Bicara

terapimelia.blogspot.com - Melihat situasi seperti sekarang ini, memang banyak orang tua yang cemas gara-gara anaknya terlambat bicara. Padahal bila dilihat dari segi umur, anak tersebut sudah cukup usia untuk dapat berbicara seperti anak sebayanya.

Jika anda sebagai orang tua, haruslah segera mendeteksi gangguan ini sejak dini. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya.

image

Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan.


Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti.
Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.

Bila Anak Terlambat Bicara

Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya.
Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan. Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis.

image

adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:

  1. Hambatan pendengaran
    Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga
  2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
    Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
  3. Masalah keturunan
    Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
  4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
    Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun.
    Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
  5. Faktor televisi
    Anak batita yang banyak nonton tv cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang).
    Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
image

Evaluasi Pemeriksaan

Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek:

  1. Fisiologis dan neurologis
    Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.
  2. Psikologis
    Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.
    Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
    Sebenarnya hal ini masih bisa didiagnosa dan dilakukan penanganan yang tepat supaya kemampuan tersebut akhirnya berkembang seperti anak-anak lain seusianya. Jika sejak awal hambatan bicara ini sudah didiagnosa secara tepat, dan jika pihak keluarga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan dukungan bagi program pemulihan si anak, maka akan besar kemungkinan bagi si anak untuk kembali memiliki kemampuan yang normal. Meski pada proses awal akan terkesan lamban, namun kemungkinan besar masalah keterlambatan bicara akan teratasi ketika anak mulai memasuki sekolah dasar.

Read More..