Tampilkan postingan dengan label Edukasi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2012

Biasakan Makan yang Beretika

image

Jangan sampai terlambat mengenalkan dan mengajarkan etika makan kepada balita. Anda tentu ingin kelak anak tumbuh menjadi pribadi yang santun dan diterima oleh lingkungan sosial. Inilah TOP TEN etika makan :

1. Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan. Meskipun menggunakan peralatan makan, tangan harus tetap bersih.

2. Makan dalam posisi duduk –tidak sambil jalan-jalan atau berlarian. Hindari pula mebiarkan anak bermain saat makan, bermain dengan makanannya atau menyambi makan dengan aktivitas lain seperti menonton televisi. Anak tidak dapat konsentrasi terhadap makanannya, alhasil ia cenderung tidak menghabiskan makanan. Duduk dengan posisi tegak lurus, bukan membungkuk atau kaki selonjoran.
Saat duduk di kursi makannya, pastikan kursi si kecil tidak terlalu rendah dari meja makan, sehingga tidak mengganggu aktivitas makan. Bila perlu gunakan high chair. Posisi lengan boleh ditumpu di atas meja, namun jangan biarkan siku ikut "duduk" di meja makan.

3. Berdoa sebelum dan sesudah makan. Anak perlu memahami bahwa makanan yang ada di depannya adalah rejeki dari Tuhan. Maka ia sepatutnya menghabiskan makanan yang ia ambil.

4. Tepat dan benar menggunakan peralatan makan. Sendok dan garpu digunakan sebagaimana fungsinya. Begitu juga bila memakai sumpit dan pisau –sediakan yang khusus untuk anak-anak dan ajarkan penggunaannya dengan benar.
Gunakan serbet bila ingin membersihkan mulut. Serbet hanya diperlakukan untuk mengelap mulut, bukan hidung atau tangan.

5. Mulailah makan bila semua masakan sudah terhidang di meja makan. Kenalkan juga aturan bahwa orang yang lebih tua dipersilahkan terlebih dahulu untuk mengambil makanan.

6. Makan dengan mulut tertutup dan tidak mengisi penuh mulutnya. Ia bisa tersedak atau malah tidak berselera makan. Makan dengan perlahan, tidak perlu terburu-buru.
Makan terburu-buru bisa membuat anak tersedak, selain terlihat tidak sopan karena seperti anak yang sangat kelaparan. Perbolehkan ia menyuap usai makanan yang ada di dalam mulutnya habis.

7. Ucapkan kata “terima kasih” setiap si kecil diberi atau diambilkan makanan oleh orang lain, kata “tolong” saat ia meminta diambilkan sesuatu, kata “maaf” bila ia tidak sengaja menjatuhkan atau menumpahkan makanan.
Alangkah lebih baik jika si kecil mengucapkan “terima kasih” kepada orang yang sudah memasak makanan untuknya.

8. Hindari berkomentar negatif tentang makanan yang sudah dihidangkan, seperti, “Makanannya tidak enak. Aku tidak suka!” Lebih baik bila anak diajarkan untuk bilang, “Apakah ada makanan yang lain, bunda? Aku tidak terlalu suka.“

9. Ambil makanan sesuai dengan porsinya. Katakan padanya bahwa ia boleh tambah makanan jika ia merasa kurang. Ajarkan juga bertanggung jawab terhadap makanan yang sudah diambilnya. Jika ingin mengambil makanan, hindari bila tangan harus melewati piring orang lain, apalagi sampai tubuh si kecil ada di atas piring orang tersebut. Ajarkan ia untuk meminta tolong diambilkan oleh orang lain saja.

10. Tutup mulut dan katakan MAAF bila bersendawa. Hindari melarang si kecil untuk bersendawa karena ia bisa muntah. Makan dengan rapi. Hati-hati dan lakukan secara perlahan ketika mengambil atau mengaduk makanan. Jangan sampai makanan tercecer di atas meja.

Makan dengan tangan. Anggapan bahwa makan dengan tangan adalah kurang sopan tidak sepenuhnya benar. Ada manfaat yang bisa diperoleh anak, yaitu melatih kemampuan motorik halusnya dan belajar mengenal tekstur makanan.
Lagipula, tidak semua makanan harus di makan dengan sendok, garpu atau sumpit –misalnya makan roti, hamburger, kentang goreng atau ayam goreng. Dan lagi, dalam budaya Indonesia, makan dengan tangan bukanlah hal tabu –bahkan merupakan hal baik dan kebiasaan yang dipujikan. Dari segi etika makan, selama posisi tubuh saat makan benar, perilaku makan sopan dan makan tidak berantakan, sah-sah saja.

Read More..

Kamis, 08 Maret 2012

Menstimulasi Otak Anak

image

terapimelia.blogspot.com - Saat-saat liburan merupakan saat-saat yang sangat mengasyikan bagi si kecil. Anda sebagai orang tua sebaiknya mengisi liburan si kecil dengan kegiatan yang menyenangkan sekaligus mendidik. Tujuannya adalah agar anak bertambah pengetahuannya. Namun, terkadang waktu libur adalah waktu untuk bermalas-malasan, ber- ria, dll. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan efek negatif bagi anak

Memberikan liburang dengan hal yang bersifat edukatif bisa mneyebabkan otak si kecil menjadi fresh dan netral kembali. Nah, hal ini bisa menimbulkan semangat belajar baru bagi anak-anak. Itu berarti, liburan bisa merilekskan pikiran anak yang mungkin penat. Mengisi liburan dengan kegiatan edukatif merupakan salah satu upaya untuk menstimulasi perkembangan otak anak. Itu berarti dapat mencerdaskan otak anak. Penelitian membuktikan bahwa liburan yang bersifat edukatif dapat menambah kuat jaringan yang ada pada otak sehingga anak mudah menyerap hal-hal baru.

Sebaiknya jangan membiarkan anak-anak hanya bergame ria atau duduk manis di depan layar kaca, hal itu dapat mengakibatkan rasa malas pada anak karena tidak ada aktivitas fisik yang dilakukan. Itu tentu merugikan anak itu sendiri.

Sesuaikan Dengan Anak

Liburan yang bersifat edukatif tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal. Liburan edukatif dapat dilakukan di mana saja. Namun, sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak yang berusia 5 tahun kebawah sebiaknya lebih banyak diberikan waktu bermain. Nah, saat usia 5 tahun ke atas sebaiknya difokuskan untuk kegiatan belajar

Read More..

Minggu, 04 Maret 2012

Ketika si Kecil Menyanyi Lagu Dewasa

image

Memang sekarang kita sering mendengar anak kecil yang menyanyi lagu dewasa yang bertema cinta. Ternyata itu terjadi bukan tanpa alasan. Mungkin itu karena banyak lagu dewasa yang diputar pada berbagai media seperti TV, radio dan sebagainya. Selain itu yang mempengaruhi adalah kosongnya lagu-lagu anak saat ibi. Seharusnya melalui lagu, anak bisa disisipi edukasi yang lebih bermanfaat.

Namun, kembali ke permasalahan yang utama, bahwa lagu dewasa lebih sering ditayangkan. Secara langsung, intensitas lagu dewasa lebih besar yang mengakibatkan anak lebih bisa menghafal lagu dewasa tersebut.

Parahnya lagi, lagu dewasa 85% itu bertema tentang percintaan. Itu jelas dapat mempengaruhi kondisi anak. “Matang sebelum masanya” mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan anak masa kini. Anak sekarang sudah mengetahui hal yang belum menjadi “hak”nya. Itu dapat mempengaruhi emosi anak yang notabene belum siap.Selain mempengaruhi kondisi psikologis anak, hal ini juga dapat menggeser norma norma yang telah berlaku. Sebagai contoh misalnya anak sering menyanyikan lagu bertema perselingkuhan, maka secara tidak langsung dapat mendoktrin anak untuk melakukan hal tersebut,

Hal ini mungkin dapat diatasi dengan cara sedikit demi sedikit mengajarkan lagu anak yang lawas. Itu dapat sedikit menggerus lagu dewasa yang sedang membombardir tangga lagu saat ini. Mungkin cara efektif untuk mengenalkan lagu anak adalah dengan mengaitkan pada situasi atau kondisi yang sedang dirasakan. Ketika anak sedang melihat cicak yang ada di rumahkita bisa mengenalkan lagu cicak cicak di dinding.

Pandangan saya sendiri tidak patut kita menyalahkan media, karena mereka hanya mengikuti trend. Sebenarnya tidak ada yang patut disalahkan.

Berikut beberapa solusi yang dapat anda tempuh untuk mengatasi hal tersebut :

  1. Kurangi intensitas anak untuk mendengar lagu dewasa dengan mengenalkan anak dengan lagu nasionalisme.
  2. Memberikan tontonan bagi anak yang bersifat edukatif
  3. Sisipkan anak mulai dengan hal hal yang kecil sekalipun, jangan menyepelekan hal yang kecil karena apa? Karena hal kecil tersusun dari hal yang besar









Read More..

Meningkatkan IQ si Kecil? Kenapa Tidak

Para ahli menyatakan bahwa ternyata nilai IQ (Intelligence Quotient) seorang anak dapat ditingkatkan melalui beberapa cara. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa hal yang mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang, yang bisa dibentuk sejak dalam kandungan dan tahap awal masa tumbuh kembang si kecil. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan IQ buah hati.

1. Konsumsi makan bergizi selama masa kehamilan

Jangan lupa untuk selalu menjaga pola makan selama kehamilan, sangat disarankan untuk mengkonsumsi suplemen makanan yang mengandung kolin, untuk merangsang perkembangan otak janin.
Memperbanyak konsumsi makanan sea food, terutama ikan, dipercaya sangat baik untuk perkembangan IQ .

2. Berikan Air Susu Ibu (ASI)

Menurut analisa riset, beragam asam lemak yang terkandung dalam ASI diyakini mampu meningkatkan kecerdasan. Selain itu, aspek fisik dan emosional dalam proses menyusui dapat menciptakan perubahan permanen pada perkembangan otak si kecil.
Para peneliti juga mengindikasikan kegiatan pemberian ASI meningkatkan interaksi verbal antara ibu dan anak, sehingga membantu perkembangan mereka.

3. Perkenalkanlah permainan catur

Permainan strategi semacam ini mampu melatih kemampuan si kecil untuk menganalisa sebuah masalah dari berbagai sudut pandang. Kemampuan tersebut membantu si kecil dalam menentukan alternatif dan pemecahan dari masalah yang dihadapi.

4. Berikan Binatang Peliharaan

Semakin kuat keterikatan dan perhatian si kecil terhadap hewan peliharaannya, maka akan kemampuan kognitifnya semakin terasah dan bisa membantu meningkatkan nilai IQ.

5. Ajak si kecil untuk berlatih musik atau mengikuti kelas musik

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar musik memiliki perkembangan IQ yang lebih baik, peningkatannya bisa mencapai 7 hingga 9 poin dalam kurun waktu selama 1 bulan.

6. Kurangi hal-hal yang tidak memberikan pengaruh positif pada perkembangan otak si kecil

seperti misalnya orang-orang dewasa di sekitar si kecil yang menirukan bahasa bayi atau "baby talk" sangat tidak dianjurkan, karena hal tersebut bisa menjadi hambatan bagi si kecil dalam mengenali ragam kosakata baru. Selain pengaruh tontonan yang disajikan cukup mengkhawatirkan, terlalu banyak menonton acara televisi pun ternyata dapat menimbulkan efek depresi pada anak.

Read More..